KEDUDUKAN ISTIHSAN DAN ISTIHSAB

MAKALAH

USHUL FIQH

“KEDUDUKAN ISTIHSAN DAN ISTIHSAB”

 

 20160921062157


Disusun Oleh:

  1. Syafi Is Marliah (201605010014)
  2. Anita Ayu Rahmawati (201605010003)

FAKULTAS AGAMA ISLAM

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

2016

Mata Kuliah: Ushul Fiqh

Dosen: Masfufah, M.Pd.I

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, berkat rahmat dan karunia Allah SWT. Tim penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul Kedudukan Istihsan dan Istihsab. Sebuah makalah yang ditunjukkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ushul Figh. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepaa Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan para pengikutnya yang telah berjuang menegakkan ajaran agama islam dalam rangka menebar kemaslahatan bagi alam semesta.

Sebagai landasan hukum islam, ushul fiqh menempati posisi yang sangat urgen dalam struktur kajian keislaman. Karena itu, pembuatan makalah ini sebagai upaya untuk mengetahui dan mengkaji Kedudukan Istihsan dan Istihsab.

Melalui makalah ini pembaca diharapkan dapat memahami tentang kedudukan-kedudukan suatu istihsan dan istihsab. Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah khazanah keilmuan islam khususnya kedudukan istihsan dan istihsab serta semoga segala kebaikan semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini menjadi amal shaleh dan mendapat ridho Allah SWT. Amiin.

Sidoarjo, Oktober 2016

Tim Penulis

 

 

DAFTAR ISI

 

Cover…………………………………………………………………………………………………… i

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………… ii

Daftar isi……………………………………………………………………………………………. iii

BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………………………………. 1

1.1     Latar Belakang…………………………………………………………………. 1

1.2     Rumusan Masalah…………………………………………………………….. 2

1.3     Tujuan ……………………………………………………………………………. 2

BAB 2 PEMBAHASAN………………………………………………………………………. 3

  • Pengertian Istishan ………………………………………………………….. 3
  • Macam-macam Istishan……………………………………………………. 4
  • Perbedaan Ulama Tentang Istishan……………………………………. 5
  • Pengertian Istishab ………………………………………………………….. 8
  • Kehujjahan Istishab…………………………………………………………. 9
  • Pendapat Ulama Tentang Istishab……………………………………. 10

BAB 3 PENUTUP…………………………………………………………………………….. 11

3.1 ….. Kesimpulan…………………………………………………………………… 11

3.2 ….. Saran …………………………………………………………………………… 11

Daftar Pustaka …………………………………………………………….12        

 

 

 

 

 


BAB 1

PENDAHULUAN

  • LATAR BELAKANG

Ilmu Ushul Fiqih merupakan salah satu intsrumen penting yang harus dipenuhi oleh siapapun yang ingin melakukan mekanisme ijtihad dan istinbath hukum dalam Islam. Itulah sebabnya dalam pembahasan kriteria seorang mujtahid, penguasaan akan ilmu ini dimasukkan sebagai salah satu syarat mutlaknya untuk menjaga agar proses ijtihad dan istinbath tetap berada pada koridor yang semestinya. Meskipun demikian, ada satu fakta yang tidak dapat dipungkiri bahwa penguasaan Ushul Fiqih tidaklah serta merta menjamin kesatuan hasil ijtihad dan istinbath para mujtahid. Disamping faktor eksternal Ushul Fiqih itu sendiri, seperti penentuan keshahihan suatu hadits misalnya, internal Ushul Fiqih sendiri pada sebagian masalahnya mengalami perdebatan (ikhtilaf) di kalangan para Ushuliyyin. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah al-Adillah (sebagian ahli Ushul menyebutnya: al-Ushul al-Mukhtalaf fiha,atau “Dalil-dalil yang diperselisihkan penggunaannya” dalam penggalian dan penyimpulan hukum.Mashadirul Ahkam (sumber-sumber hukum) ada yang disepakati ada yang tidak. Jelasnya, ada Mashadir Ashliyah (sumber pokok) yaitu: Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya dan ada Mashadir Thabi’iyah (sumber yang dipautkan kepada sumber-sumber pokok) yang disepakati oleh jumhur fuqaha yaitu: ijma dan qiyas. Adapula yang di ikhtilafi oleh tokoh-tokoh ahli ijtihad sendiri yaitu: Istihsan, istishab, Maslahah mursalah, Urf, Saddudzari’ah,dan madzhab sahabi.
Makalah ini akan menguraikan tentang hakikat Istihsan, Istishab, dan maslahah mursalah yang mencakup pengertian, macam-macamnya, kehujjahannya, kaidah-kaidahnya, dan contoh-contoh produk hukumnya.

1.2       Rumusan Masalah
Apa pengertian istishab dan istihsan?
Apa dasar kehujjahan istihsan dan istishab?
Apa saja penerapan dari istihsan dan istishab?

1.3    Tujuan
– Mengetahui pengertian istishab dan istihsan
– Mengetahui dasar kehujjahan dari istihab dan istihsan
– Menerapkan istihsan dan istishab dalam kehidupan sehari-hari

 

 

 

BAB 2

PEMBAHASAN

 

ISTIHSAN

  • Pengertian istihsan

Menurut bahasa istihsan berarti memandang baik sesuatu. Ia juga berarti sesuatu yang digemari dan disenangi manusia, walaupun dipandang buruk orang lain.

Sedangkan menurut istilah istihsan ialah meninggalkan ketentuan qiyas yang jelas ‘illahnya dan menggunakan qiyas yang samar ‘illahnya. Dengan kata lain, meninggalkan hukum yang bersifat umum untuk berpegangan dengan hukum pengecualian, karena ada dalil yang memperkuatnya. Contohnya seseorang yang harus membayar pajak Negara dengan uang dapat membayarnya dengan barang lain yang nilainya sama.

Menurut istilah terdapat beberapa rumusan dari para ulama :

  1. Menurut Abdul Wahab Khallaf, istihsan ialah pindahnya seseorang mujtahid dari tuntutan qiyas jali kepada tuntutan qiyas khafi, atau dari hukum kully kepada hukum istinaiy berdasarkan dalil.
  2. Wahbah az-zuhaili terdiri dari dua definisi yaitu
  3. Memakai qiyas khafi dan meninggalkan qiyas jail karena ada petunjuk untuk itu.
  4. Hukum pengecualian dari kaidah-kaidah yang berlaku umum karena ada petunjuk untuk hal tersebut.
  5. Imam malik mendefinisikan istihsan dengan beramal dengan salah satu dari dua dalil yang paling kuat atau mengambil maslahah juz’iyah dalam berhadapan dengan dalil kulli.
  6. Menurut Muhamad abu zahrah definisi yang lebih baik adalah menurut al-hasan al-kurkhi yaitu perbuatan yang adil terhadap suatu permasalahan hukum dengan memandang hukum yang lain, karena adanya suatu yang lebih kuat yang membutuhkan keadilan.
  • Macam-macam istishan

Istihsan yang disebut pertama, dikenal dengan istihsan qiyasi, sedangkan yang kedua disebut istihsan istisnaiy.

  1. Istilah qiyasi terjadi pada suatu kasus yang mungkin dilakukan padanya salah satu dari dua bentuk qiyas , yaitu qiyas jail atau qiyas khafi. Bila dilihat dari segi kejelasan ‘illatnya qiyas jail lebih pantas didahulukan atas qiyas khafi. Namun, menurut mazhab hanafi, bilamana mujtahid memandang bahwa qiyas khafi lebih besar kemaslahatan yang dikandungnya dibandingkan dengan qiyas jail, maka qiyas jail itu boleh ditinggalkan dan yang di pakai adalah qiyas khafi.
  2. Sedangkan istihsan istisnaiy terbagi kepada beberapa macam, yaitu :
  3. Istihsan bin-nas, yaitu hukum pengecualian berdasarkan nash (al-qur’an atau sunnah) dari kaidah yang bersifat umum yang berlaku bagi kasus-kasus serupa.

Contohnya, menurut kaidah umum makan dalam keadaan lupa pada siang hari ramadhan merusak puasa seseorang karena telah merusak rukun dasarnya yaitu imsak di siang harinya. Namun hadits Rasulullah makan dalam keadaan lupa di siang hari ramadhan tidak membatalkan puasa.

من اكل او شرب ناسيا فلا يفطر فانما هو رزق رزقه الله

Artinya: “Barang siapa yang terlupa sedangkan ia berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempunakan puasanya. Sesungguhnya Allah memberi makan  dan minum kepadanya”. ( Riwayat Al-Bukhari dan Muslim dan At-Tarmizi dan Abu Daud dan Ibnu Majah)

  1. Istihsan berdasarkan ijma’. Misalnya, pesanan untuk membuat lemari. Menurut kaidah umum praktik seperti itu tidak dibolehkan, karena pada waktu mengadakan akad pesanan, barang yang akan diperjualbelikan tersebut belum ada. Namun hal itu dibolehkan sebagai hukum pengecualian, karena tidak seorangpun ulama yang membantah keberlakuannya dalam masyarakat sehingga dianggap sudah disepakati (ijma’).
  1. Istihsan yang berdasarkan ‘urf (adat kebiasaan). Misalnya, boleh mewakafkan benda bergerak seperti buku-buku dan perkakas alat memasak. Menurut ketentuan umum perwakafan, seperti dikemukakan Abdul-Karim Zaidan, wakaf hanya dibolehkan kepada harta benda yang bersifat kekal dan berupa benda tidak bergerak seperti tanah. Dasar kebolehan mewakafkan benda bergerak itu hanya adat kebiasaan di berbagai negeri yang membolehkan praktik wakaf tersebut.
  2. Istihsan yang didasarkan atas masalah mursalah. Misalnya mengharuskan ganti rugi atas diri seorang penyewa rumah jika peralatan rumah itu ada yang rusak di tangannya kecuali jika kerusakan itu disebabkan bencana alam yang diluar kemampuan manusia untuk menghindarinya. Menurut kaidah umum, seorang penyewa rumah tidak dikenakan ganti rugi jika ada yang rusak selama menghuni rumah itu kecuali jika kerusakan itu disebabkan kelalaiannya. Tetapi demi menjaga keselamatan harta tuan rumah dan menipisnya tanggung jawab kebanyakan para penyewa, maka kebanyakan ahli fiqih berfatwa untuk membebankan ganti rugi atas pihak tersebut.
  • Perbedaan pendapat ulama tentang istishan
  1. Mazhab Hanafi, Maliki dan Mazhab Hambali berpendapat bahwa istihsan dapat dijadikan landasan dalam menetapkan hukum dengan beberapa alasan antara lain:

Firman Allah Azzumar Ayat 18

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ (١٨)

Artinya: “(yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat”.

Ayat tersebut, menurut mereka, memuji orang-orang yang mengikuti perkataan (pendapat) yang baik, sedangkan mengikuti istihsan berarti mengikuti sesuatu yang dianggap baik, dan oleh karena itu sah dijadikan landasan hukum.

  1. imam Muhammad ibn Idris al-Syafi’i (w.204 H), pendiri Mazhab Syafi’i, tidak menerima istihsan sebagai landasan hukum. Menurutnya, barangsiapa yang menetapkan hukum berlandaskan istihsan sama dengan membuat-buat syari’at baru dengan hawa nafsu. Alasannya antara lain
  2. Al-an’am : 38

وَمَامِنْدَابَّةٍفِيالْأَرْضِوَلَاطَائِرٍيَطِيرُبِجَنَاحَيْهِإِلَّاأُمَمٌأَمْثَالُكُمْۚمَافَرَّطْنَافِيالْكِتَابِمِنْشَيْءٍۚثُمَّإِلَىٰرَبِّهِمْيُحْشَرُونَ

Artinya :Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.

(6 : 38)

An-nahl :44

بِالْبَيِّنَاتِوَالزُّبُرِوَأَنْزَلْنَاإِلَيْكَالذِّكْرَلِتُبَيِّنَلِلنَّاسِمَانُزِّلَإِلَيْهِمْوَلَعَلَّهُمْيَتَفَكَّرُونَ

Artinya :”Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab, dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (16 : 44)

Al- Maidah : 49

وَأَنِاحْكُمبَيْنَهُمبِمَآأَنزَلَاللّهُوَلاَتَتَّبِعْأَهْوَاءهُمْوَاحْذَرْهُمْأَنيَفْتِنُوكَعَنبَعْضِمَاأَنزَلَاللّهُإِلَيْكَفَإِنتَوَلَّوْاْفَاعْلَمْأَنَّمَايُرِيدُاللّهُأَنيُصِيبَهُمبِبَعْضِذُنُوبِهِمْوَإِنَّكَثِيرًامِّنَالنَّاسِلَفَاسِقُونَ

Artinya :Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagiaan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagiaan dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (5 : 49)

Ayat pertama di atas, menurut Imam Syafi’i menegaskan kesempurnaan al-qur’an untuk menjawab segala sesuatu. Ayat kedua menjelaskan bahwa di samping al-qur’an ada Sunnah Rasulullah untuk menjelaskan dan merinci hukum-hukum yang terkandung dalam al-qur’an sehingga menjadi lebih lengkap untuk menjadi rujukan menetapkan hukum sehingga tidak lagi memerlukan istihsan yang merupakan kesimpulan pribadi. Kemudian ayat ketiga, menurut Imam Syafi’i, memerintahkan manusia untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya dan larangan mengikuti kesimpulan hawa nafsu. Hukum yang dibentuk melalui istihsan adalah kesimpulan hawa nafsu, oleh karena itu tidak sah dijadikan landasan hukum.

Menurut Wahbah az-Zuhaili, adanya perbedaan pendapat tersebut disebabkan perbedaan dalam mengartikan istihsan. Imam Syafi’i membantah istihsan yang didasarkan atas hawa nafsu tanpa berdasarkan dalil syara’. Sedangkan istihsan dipakai oleh para penganutnya bukan didasarkan hawa nafsu, tetapi men-tarjih(menganggap kuat) salah satu dari dua dalil yang bertentangan karena dipandang lebih dapat menjangkau tujuan pembentukan hukumnya.

Dalam gambaran tersebut, sasaran dari kritikan Imam Syafi’I di atas, bukanlah istihsan yang telah dirumuskan secara definitif dikalangan penganutnya, tetapi sasarannya adalah praktik-praktik istihsan yang terdapat di irak dimana secara ilmiah belum dirumuskan secara definitif.

ISTISHHAB

  • Pengertian istishhab

Istishhab secara harfiyah adalah mengakui adanya hubungan perkawinan. Sedangkan menurut Ulama Ushul adalah menetapkan sesuatu menurut keadaan sebelumnya sampai terdapat dalil-dalil yang menunjukkan perubahan keadaan. Atau menjadikan hukum yang telah ditetapkan pada masa lampau secara kekal menurut keadaannya sampai terdapat dalil yang menunjukkan perubahannya.

Oleh sebab itu, apabila seorang mujtahid ditanya tentang hukum kontrak atau suatu pengelolaan yang tidak ditemukan nash-nya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga tidak ditemukan dalil syara’ mengitlakkan hukumnya, maka hukumnya adalah boleh.Yaitu suatu keadaan, pada saat Allah SWT. Menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi secara keseluruhan. Maka selama tidak terdapat dalil yang menunjukkan atas perubahan dari kebolehannya, keadaan segala sesuatu itu dihukumi dengan sifat asalnya.

Dan apabila seorang mujtahid ditanya tentang hukum binatang, benda-benda, tumbuh-tumbuhan, makanan dan minuman, atau suatu amal yang hukumnya tidak ditemukan dalam suatu dalil syara’ maka hukumnya adalah boleh. Kebolehan adalah pangkal (asal), meskipun tidak terdapat dalil yang menunjukkan atas kebolehannya. Dengan demikian, pangkal sesuatu itu adalah boleh. Allah telah berfirman dalam kitab Al-Qur’an :

Al Baqoroh 29

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al Baqarah: 29)

Dan Allah SWT. Juga telah menjelaskan dalam beberapa ayat lainnya, bahwa Dia telah menaklukkan segala yang ada di langit dan di bumi untuk manusia. Dengan kata lain, segala sesuatu yang ada di bumi itu tidak akan dijadikan dan ditaklukkan, kecuali dibolehkan bagi manusia. Seandainya hal itu terlarang bagi mereka, niscaya semua diciptakan bukan untuk mereka.

  • Kehujjahan istishhab

Istishhab adalah kahir dalil syara’ yang dijadikan tempat kembali para mujtahid untuk mengetahui hukum secara peristiwa yang dihadapinya. Ulama ushul berkata “sesungguhnya istishhab adalah tempat beredar fatwa”. Yaitu mengetahui sesuatu menurut hukum yang telah ditetapkan baginya selama tidak terdapat dalil yang mengubahnya. Ini adalah teori dalam pengambilan dalil yang telah menjadi kebiasaan dan traisi manusia dalam mengelola berbagai ketetapan untuk mereka.

Seorang manusia yang hidup tetap dihukum atas hidupnya dan pengelolahan atas kehidupan ini diberikan kepadanya sampai terdapat dalil yang menunjukkan adanya keputusan tentang kematiannya. Setiap orang yang mengetahui wujud sesuatu, maka dihukumi wujudnya sampai terdapat dalil yang meniadakannya, dan barangsiapa mengetahui ketiadaannya sesuatu, maka dihukumi dengan ketiadaannya sampai terdapat dalil yang menunjukkan keberadaannya.

Hukum telah berjalan menurut keberadaan ini. Jadi, satu kepemilikan misalnya, tetap menjadi milik siapa saja berdasarkan sebab beberapa kepemilikan. Maka kepemilikan itu dianggap ada sampai ada ketetapan yang menghilangkan kepemilikan tersebut.

Begitu juga kehalalan pernikahan bagi suami-istri sebab akad pernikahan dianggap ada sampai ada ketetapan yang menghapuskan kehalalan itu. Demikian pula halnya dengan tanggungan karena utang piutang atau sebab ketetapan apa saja, dianggap tetap ada sampai ada ketetapan yang menghapuskannya. Tanggungan yang telah dibebaskan dari orang yang terkena tuntutan utang piutang atau ketetapan apa saja, dianggap bebas sampai ada ketetapan yang membebaskannya. Singkatnya, asal sesuatu itu adalah ketetapan sesuatu yang telah ada, menurut keadaan semula terdapat sesuatu yang mengubahnya.

Istishhab juga telah dijadikan dasar bagi prinsip-prinsip syariat, antara lain sebagai berikut, “asal sesuatu adalah ketetapan yang ada menurut keadaan semula sehingga terdapat sesuatu ketetapan yang mengubahnya”.

Sesuai dengan kaidah :

الأصل في الأشياء الإباحة جتى يدل الد ليل على التحريم

Artinya : “asal segala sesuatu adalah kebolehan sampai adanya dalil yang menunjukkan keharamannya.”

Pendapat yang dianggap benar adalah istishhab bias dijadikan dalil hukum karena hakikatnya dalillah yang telah menetapkan hukum tersebut. Istishhab itu tiada lain adalah dalil pada hukumnya.

  • Pendapat ulama tentang istishhab

Ulama hanafiyah menetapkan bahwa istishhab merupakan hujjah untuk mempertahankan dan bukan untuk menetapkan apa-apa yang dimaksud oleh mereka. Dengan pernyataan tersebut jelaslah bahwa istishhab merupakan ketetapan sesuatu, yang telah ada menurut keadaan semula dan juga mempertahankan sesuatu yang berbeda sampai ada dalil yang menetapkan atas perbedaannya.

Istishhab bukanlah hujjah untuk menetapkan sesuatu yang tidak tetap. Telah dijelaskan tentang penetapan orang yang hilang atau yang tidak diketahui tempat tinggalnya dan tempat kematiannya., bahwa orang tersebut ditetapkan tidak hilang dan dihukumi orang yang hidup sampai adanya petunjuk yang menunjukkan kematiannya.

Istishhablah yang menunjukkan atas hidupnya orang tersebut dan menolak dugaan kematiannya serta warisan harta bendanya juga perceraian pernikannya. Tetapi hal itu bukanlah hujjah untuk menetapkan pewaris dari lainnya, karena hidup yang ditetapkannya menurut istishhab itu adalah hidup yang didasarkan pengakuan.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1       Kesimpulan

istihsan ialah meninggalkan hukum yang bersifat umum untuk berpegangan dengan hukum pengecualian, karena ada dalil yang memperkuatnya.

Istishhab ialah menetapkan sesuatu menurut keadaan sebelumnya sampai terdapat dalil-dalil yang menunjukkan perubahan keadaan.

Kedudukan antara istihsan dan istishhab adalah berbanding terbalik.

3.2       Saran

Dasar- dasar fiqih islam terutama istihsan dan istihhab sebaiknya diterapkan dalam kehidupan untuk menetapkan hukum setelah sumber- sumber hukum yang lain. Dan diharapkan istihsan dan istishhab ini diterapkan dengan sebaik- baiknya dalam kehidupan, agar memperoleh ridho dari Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi satria dkk.2005.ushul fiqih.jakarta:kencana

Suwarjin.2012.ushul fiqih.yogyakarta:teras

Syafe’I rachmat.1999.ilmu ushul fiqih:pustaka setia

www. alhafidzahsin.2013.kamus fiqih:Jakarta:amzah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s