STRUKTUR HADIST

MAKALAH

ULUMUL HADIST

“STRUKTUR HADIST”

( SANAD, MATAN DAN MUKHARIJ )

Mata Kuliah: Ulumul Hadist

Dosen: Lailatul Badriyah, M.Pd.I

 20160921062157

Disusun Oleh:

Syafi Is Marliah (201605010014)

Alfiana Af’idah Rofi’I (201605010023)

 

FAKULTAS AGAMA ISLAM

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS SUNAN GIRI

2016

 

 

KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillah, berkat rahmat dan karunia Allah SWT. Tim penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul Struktur Hadist. Sebuah makalah yang ditunjukkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ulumul Hadist. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. para sahabat, dan para pengikutnya yang telah berjuang menegakkan ajaran agama Islam dalam rangka menebar kemaslahatan bagi alam semesta.

Sebagai sumber ajaran agama Islam kedua setelah Al-Qur’an, hadist menempati posisi yang sangat urgen dalam struktur kajian keIslaman. Karena itu, pembuatan makalah ini sebagai upaya untuk mengetahui dan mengkaji struktur suatu hadist.

Melalui makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami tentang struktur-struktur suatu hadist. Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah khazanah keilmuan Islam khususnya structural hadist dan semoga segala kebaikan semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini menjadi amal shaleh dan mendapat ridho Allah SWT. Amiin.

Sidoarjo, 14 Oktober 2016

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

 

Cover…………………………………………………………………………………………………… i

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………… ii

Daftar isi……………………………………………………………………………………………. iii

BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………………………………. 1

1.1      Latar Belakang…………………………………………………………………. 1

1.2      Rumusan Masalah…………………………………………………………….. 2

1.3      Tujuan ……………………………………………………………………………. 2

BAB 2 PEMBAHASAN………………………………………………………………………. 3

  • Pengertian Hadis……………………………………………………………… 3
  • Komponen Hadis…………………………………………………………….. 4
  • Sanad Hadis……………………………………………………………………. 5
  • Matan Hadis…………………………………………………………………. 11
  • Mukharrij……………………………………………………………………… 12
  • Kedudukan Sanad dan Matan Hadis……………………………….. 13

BAB 3 PENUTUP…………………………………………………………………………….. 15

3.1 ….. Kesimpulan…………………………………………………………………… 15

3.2 ….. Saran …………………………………………………………………………… 15

Daftar Pustaka………………………………………………………………………………….. 16


BAB 1

PENDAHULUAN

 

  • LATAR BELAKANG

 

Al-qur’an yang senantiasa dibaca kaum muslimin tidak sekedar bacaan suci umat islam yang diyakini sebagai ibadah, melainkan juga sebagai hudan(pedoman dan petunjuk hidup) bagi orang-orang yang bertakwa, bahkan segenap umat manusia. Tujuan hidup dengan menjadikan al-Qur’an sebagai hudan adalah tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat dalam naungan ridha dan kasih syang ALLAH SWT.

            Namun demikian, karena petunjuk hidup di dalam al-Qur’an hampir sebagian besarnya bersifat mujmal (global) dan masih amm (umum) maka untuk menerapkannya secara praktis sangatlah menghajatkan penjelasan-penjelasan yang lebih operasional, terutama dari Nabi Muhammad selaku pembawa al-Qur’an serta pemilik otoritas utama dalam hal ini. Penjelasan-penjelasan dari Nabi tersebut bisa berupa ucapan, perbuatan, maupun pernyataan atau pengakuan, yang dalam tradisi keilmuan islam disebut hadis. Dengan demikian, hadis nabi merupakan ajaran islam setelah al-Qur’an.

            Dari sisi periwayatannya hadis memang berbeda dengan al-Qur’an. Semua periwayatan ayat-ayat al-Qur’an diyakini dan dapat dipastikan berlangsung secara mutawattir, sedang hadis ada yang muttawattir dan ada juga yang ahad. Oleh karena itu, al-Qur’an apabila dilihat dari segi periwayatannya mempunyai kedudukan sebagai qathiy al-wurud, sedang hadis Nabi, dalam hal ini yang berkategori ahad, berkedudukan sebagai zhanniy al-wurud. Untuk mengetahui otentisitas dan orisinalitas hadis semacam ini diperlukan penelitian matan maupun sanad. Dari sini, dapat dilihat bahwa selain rawi (orang yang meriwayatkan atau mengeluarkan hadis ), matan dan sanad merupakan tiga unsur terpenting dalam hadis Nabi.

            Makalah ini bermaksud menjelaskan pokok-pokok dan fungsi ketiga unsur di atas dalam membentuk sebuah hadis.

  • RUMUSAN MASALAH

 

  • Apa yang dimaksud dengan hadis ?
  • Apa saja komponen hadis ?
  • Apa yang dimaksud sanad ?
  • Apa yang dimaksud matan ?
  • Apa yang dimaksud mukharij/rawi ?
  • Bagaimana kedudukan sanad dan matan hadis ?
  • TUJUAN

 

  • Untuk mengetahui pengertian hadis
  • Untuk mengetahui komponen hadis
  • Untuk mengetahui makna sanad
  • Untuk menetahui makna matan
  • Untuk mengetahui makna mukharij/rawi
  • Untuk mengetahui kedudukan sanad dan matan hadis

BAB 2

PEMBAHASAN

 

2.1       PENGERTIAN HADIS

2.1.1    SECARA ETIMOLOGIS

Menurut Ibn Manzhur, kata hadis berasal dari bahasa arab, yaitu al-hadits, jamaknya al-ahadits, al-haditsan, dan al-hudtsan. Secara etimologis, kata ini memiliki banyak arti, di antaranya al-jadid (yang baru) lawan dari al-qadim (yang lama), dan al-khabar, yang berarti kabar atau berita.

Di samping pengertian tersebut, M.M Azami mendefinisikan bahwa kata hadis (Arab: al-hadits), secara etimologi berarti komunikasi,kisah, percakapan; religious atau sekular, historis atau kontemporer.

  • SECARA TERMINOLOGIS

Secara terminologis, para ulama, baik muhaditsin, fuqaha, ataupun ulama ushul, merumuskan pengertian hadis secara berbeda-beda. Perbedaan pandangan tersebut lebih disebabkan oleh terbatas dan luasnya objek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung kecenderungan pada aliran ilmu yang didalaminnya .

  1. Ulama hadis mendefinisikan hadis sebagai berikut:

“ segala sesuatu yang diberitakan dari Nabi SAW., baik berupa sabda, perbuatan, taqrir, sifat-sifat maupun hal ihwal Nabi.”

  1. Menurut istilah ahli ushul fiqh, pengertian hadis adalah :

“ hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW., selain Al-qur’an Al-karim, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut dengan hukum syara’.”

  1. Adapun istilah menurut para fuqaha, hadis adalah :

“ segala sesuatu yang ditetapkan Nabi SAW. Yang tidak bersangkut paut dengan masalah-masalah fardhu atau wajib.”

   Hal ini jelas bahwa para ulama beragam dalam mendefinisikan hadis karena mereka berbeda dalam meninjau objek hadis itu sendiri.

  • KOMPONEN HADIS

Secara struktur, hadis terdiri ats tiga komponen, yakni sanad atau isnad (rantai penutur), matan ( redaksi hadis ), dan mukharij (rawi). Untuk ‎lebih jelasnya perhatikan contoh dibawah ini:‎

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا أَبُو جَنَابٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْبَرَاءِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِىَّ ‏صلى الله عليه وسلم خَطَبَ عَلَى قَوْسٍ أَوْ عَصاً (اخرجه احمد فى مسنده)‏

Sanad adalah:‎

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا أَبُو جَنَابٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْبَرَاءِ عَنْ أَبِيهِ ‏

Matan adalah:‎

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّم خَطَبَ عَلَى قَوْسٍ أَوْ عَصًا ‏

Mukharrij adalah: ‎

احمد ‏(اخرجه احمد فى مسنده)‏

2.3       SANAD HADIS

2.3.1    PENGERTIAN HADIS

Kata “sanad” menurut bahasa adalah “sandaran” atau sesuatu yang kita jadikan sandaran. Dikatakan demikian, karena hadist bersandar kepadanya. Menurut istilah terdapat perbedaan rumusan pengertian. Al-badru bin Jama’ah dan Al-thiby mengatakan bahwa sanad adalah :

الاِخْبَارُ عَنْ طَرِيْقِ الْمَتَنِ

Artinya : “ berita tentang jalan matan”

Yang lain menyebutkan:

سِلْسِلَةُ الرِّجَالِ الْمُوْصِلَةِ اِلىَ الْمَتْنِ

Artinya” silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadist), yang menyampaikan kepada matan hadist”

Ada juga yang menyebutkan:

السند هو سلسلة الرواة الذين نقلوا المتن عن صدره الأول

Artinya : “sisilah para perawi yang menukilkan hadist dari sumbernya yang pertama”

Silsilah orang-orang maksudnya adalah susunan atau rangkaian orang-orang yang menyampaikan materi hadist tersebut, sejak yang disebut pertama sampai kepada Rasulullah SAW. Yang perkataan dan perbuatan, taqrir, dan lainnya merupakan materi atau matan hadist. Dengan pengertian tersebut, sebutan sanad hanya berlaku pada serangkaian orang, bukan dilihat dari sudut pribadi secara perseorangan. Adapun sebutan untuk pribadi, yang menyampaikan hadist dilihat dari sudut perorangan, disebut rawi.

Dengan demikian, sanad adalah rantai penutur atau perawi (periwayat) hadist. Sanad terdiri atas seluruh penutur, mulai orang yang mencatat hadist tersebut dalam bukunya (kitab hadist) hingga Rasulullah. Sanad memberikan gambaran keaslian suatu riwayat.

2.3.2    ISNAD, MUSNAD, DAN MUSNID

Selain istilah sanad, terdapat juga istilah lainnya yang mempunyai kaitan erat dengan istilah sanad, seperti : al-isnad, al-musnad, dan al-musnid.

Kata al-isnad berarti menyandarkan, mengasalkan (mengembalikn ke asal), dan mengangkat. Yang dimaksudkan di sini adalah “menyandarkan hadist kepada orang yang mengatakannya.”

Menurut At-thibi , seperti yang dikutip oleh Al-qosimi, kata isnad dengan as-sanad mempunyai arti yang hampir sama atau berdekatan. Ibn Jama’ah, dalam hal ini lebih tegas lagi. Menurutnya, ulama muhaditsin memandang kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama, yang keduanya dapat dipakai secara bergantian.

Kata Al-musnad mempunyai beberapa arti yang berbeda dengan istilah al-isnad, yang pertama berarti hadist yang diriwayatkan dan disandarkan atau di-isnad-kan kepada seseorang yang membawakannya, seperti Ibn Syihab Az-zuhri, Malik bin Anas, dan Amrah binti Abd. Ar-rahman. Kedua, berarti nama suatu kitab yang menghimpun hadist-hadist dengan sistem penyusunan berdasarkan nama-nama para sahabat rawi hadis, seperti kitab Musnad Ahmad. Ketiga, berarti nama bagi hadis yang memenuhi kriteria marfu’, (disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW). Dan Muttashil (sanad-nya bersambung sampai pada akhirnya). Musnid, yang artinya orang yang meriwayatkan hadis dari jalurnya baik ia ‎paham atau tidak.

2.3.3     TINGGI RENDAHNYA RANGKAIAN SANAD (SILSILATU ADZ-DZAHAB)

Rangkaian sanad itu berdasarkan perbedaan tingkat ke-dhabit-an dan keadilan rawi yang dijadikan sanadnya ada yang berderajat tinggi, sedang, dan lemah. Rangkaian sanad yang berderajat tinggi menjadikan suatu hadis lebih tinggi derajatnya daripada hadis yang rangkaian sanadnya sedang atau lemah. Para muhaditsin membagi tingkatan sanadnya menjadi sebagai berikut :

2.3.3.1 Ashahhu Al-Asanid (sanad-sanad yang lebih shahih)

   Para ulama seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Ash-Shalah tidak membenarkan menilai suatu sanad hadis dengan ashahhual-asanid, atau menilai suatu matan hadis dengan ashahhu al-asanid, secara mutlak yakni tanpa menyandarkan pada hal yang mutlak.

   Penilaian yang ashahhu al-asanid ini hendaklah secara muqayyad. Artinya dikhususkan kepada sahabat tertentu, misalnya ashahhu al-asanid dari Abu Hurairah r.a atau dikhususkan kepada penduduk daerah tertentu, misalnya ashahhu al-asanid dari penduduk madinah, atau dikhusukan dalam masalah tertentu, jika hendak menilai matan suatu hadis, misalnya ashahhu al asanid dalam bab wudhu atau masalah mengangkat tangan dalam berdoa. Contoh ashahhu al-asanid yang muqayyad tersebut adalah

  1. Sahabat tertentu, yaitu :
  2. Umar Ibnu Al- Khaththab r.a, yaitu yang diriwayatkan oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Salim bin ‘Abdullah bin Umar, dari ayahnya (‘Abdullah bin ‘Umar), dari kakeknya (‘Umar bin Khaththab)
  3. Ibnu Umar r.a adalah yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar r.a.
  4. Abu Hurairah r.a,. yaitu yang diriwayatkan oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Ibnu Al-Musayyab dari Abu Hurairah r.a
  5. Penduduk kota tertentu, yaitu :
  6. Kota mekkah, yaitu yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Uyainah dari ‘Amru bin Dinar dari Jabir bin Abdullah r.a.
  7. Kota madinah, yaitu yang diriwayatkan oleh Isma’il bin Abi Hakim dari Abidah bin Abi Sufyan dari Abu Hurairah r.a.

Contoh ashahhu al-asanid ysng mutlak seperti :

  1. Jika menurut Imam Bukhari, yaitu Malik, Nafi’, dan Ibnu Umar r.a
  2. Jika menurut Ahmad bin Hanbal, yaitu Az-Zuhri, Salim bin ‘Abdillah, dan Ayahnya (‘Abdillah bin ‘Umar)
  3. Jika menurut Imam An-Nasa’i, yaitu ‘Ubaidillah Ibnu ‘Abbas dan ‘Umar bin Khaththab r.a.
    • Ahsanu Al-Asanid

Hadis yang bersanad ashahhu al-asanid lebih rendah derajatnya daripada yang bersanad ashahhu al-asanid itu antara lain bila hadis tersebut bersanad :

  1. Bahaz bin Hakim dari ayahnya (Hakim bin Mu’awiyah) dari kakeknya (Mu’awiyah bin Haidah).
  2. Amru bin Syu’aib dari ayahnya (Syu’aib bin Muhammad) dari kakeknya (Muhammad bin Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash)
  • Adh’afu Al-Asanid

Rangkaian sanad yang paling rendah derajatnya disebut adh’afu al-asanid atau auha al-asanid. Rangkaian sanad yang adh’afu al-asanid, yaitu:

  1. Yang muqayyad kepada sahabat:
  2. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Shadaqah bin Musa dari Abi Ya’qub Farqad bin Ya’qub dari Murrah Ath-Thayyib dari Abu Bakar r.a.
  3. Abu Thalib r.a., yaitu hadis yang diriwayatkan oleh ‘Amru bin Syamir Al-ju’fi dari Jabir bin Yazid dari Harits Al-A’war dari Ali bin Abi Thalib r.a.
  4. Abu Hurairah r.a., yaitu hadis yang diriwayatkan oleh As-Sariyyu bin Isma’il dari Dawud bin Yazid dari ayahnya (Yazid) dari Abu Hurairah.
  5. Yang muqayyad kepada penduduk :
  6. Kota yaman, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh hafsh bin ‘Umar dari Al-Hakam bin Aban dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas r.a
  7. Kota mesir, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Muhammad bin Al-hajjaj Ibnu Rusydi dari ayahnya dari kakeknya dari Qurrah bin ‘Abdurrahman dari setiap orang yang memberikan hadis kepadanya.
  8. Kota Syam, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Qais dari Ubaidillah bin Zahr dari ‘Ali bin Zaid dari Al-Qasim dari Abu Umamah r.a
  • JENIS-JENIS SANAD HADIS
    • SANAD ‘ALIY

Sanad ‘aliy adalah sebuah sanad yang jumlah rawinya lebih sedikit dibandingkan dengan sanad lain. Habis dengan sanad yang jumlah rawinya sedikit akan tertolak dengan sanad yang sama jika jumlah rawinya sedikit akan tertolak dengan sanad yang sama jika jumlah rawinya lebih banyak. Sanad ‘Aliy ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu sanad yang mutlak dan sanad yang nisbi (relatif).

1). Sanad ‘aliy yang bersifat mutlak adalah sebuah sanad yang jumlah rawinya hingga sampai kepada Rasulullah lebih sedikit jika dibandingkan dengan sanad yang lain. Jika sanad tersebut shahih, sanad itu menempati tingkatan tertinggi dari jenis sanad ‘Aliy.

2). Sanad ‘aliy yang bersifat nisbi adalah sebuah sanad yang jumlah rawi di dalamnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan para imam ahli hadis, seperti Syu’abah, Al-A’masy, Ibnu Juraij, Ats-tsauri, Malik, Asy-Syafi’I, Bukhari, Muslim, dan sebagainy, meskipun jumlah rawinya setelah mereka hingga sampai kepada Rasulullah lebih banyak.

Para ulama hadis memberikan erhatian serius terhadap sanad ‘aliy sehingga mereka membukukan sebagian di antaranya dan menamakannya dengan ats-tsultsiyyat. Yang dimaksudkan dengan ats-tsultsiyyat adalah hadis-hadis yang jumlah rawi dalam sanadnya antara rawi yang menulisnya dengan Rasulullah berjumlah tiga orang rawi. Diantara kitab-kitab tersebut adalah Ats-tsultsiyyat Al-Bukhari karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Ats-tsultsiyyat Ahmad bin Hambal karya Imam As-Safarini.

  • Sanad Nazil

Sanad nazil adalah sebuah sanad jumlah rawinya lebih banyak jika dibandingkan dengan sanad yang lain. Hadis dengan sanad yang lebih banyak akan tertolak dengan sanad yang sama jika jumlah rawinya lebih sedikit.

  • MATAN HADIS

Secara etimologis, matan berarti segala sesuatu yang keras bagian atasnya, punggung Jalan (muka jalan), tanah keras yang tinggi. Matan kitab adalah yang bersifat komentar dan bukan tambahan-tambahan penjelasan. Bentuk jamaknya adalah ‘mutun’dan ‘mitan’. Adapun yang dimaksud matan dalam ilmu hadist adalah:

Artinya : “ perkataan yang disebut pada akhir sanad, yakni sabda Nabi SAW. Yang disebut sesudah habis disebutkan sanadnya”

Ada juga yang mengatakan :

الفا ظ الحديث التى تتقوّم بها معا نيه

Artinya :” lafadz-lafadz hadis yang didalamnya mengandung makna-makna tertentu”

Ada juga redaksi yang lebih simple lagi, yang menyebutkan bahwa matan adalah ujung sanad (gayah as-sanad). Dari semua pengertian di atas, menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan matan ialah materi atau lafadz hadist itu sendiri.

  • MUKHARRIJ / RAWI HADIS

 

Kata Mukharrij merupakan bentuk Isim Fa’il (bentuk pelaku) dari kata takhrij atau istikhraj dan ikhraj yang dalam bahasa diartikan; menampakkan, mengeluarkan dan menarik. sedangkan menurut istilah mukharrij ialah orang yang mengeluarkan, menyampaikan atau menuliskan kedalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (gurunya). Kata rawi atau ar-rawi berarti orang yang meriwayatkan atau memberikan hadis (Naqil Al-Hadis).

Apabila kita mengutip matan hadits, dari kita tertentu, misalnya kitab shohih al-bukhori, kemudian kita mencari matan hadits yang sama di kitab yang lain (misalnya shohih muslim) dengan sanad yang berbeda, tetapi juga bertemu dengan sanad al-bukhori,maka pekerjaan yang demikian ini disebut istikhraj, atau takhrij. Sedang orang yang melakukan kegiatan tersebut juga dinamakan mukharij tersebut dihimpun dalam satu kitab, maka kitab yang demikian itu dinamakan kitab mustakhraj. Contohnya adalah kitab mustakhraj Abu Nu’aim, yaitu kitab mustakhraj hadits untuk hadits-hadits yang dimuat dalam kitab shahih al-Bukhori.

Sebenarnya sanad dan rawi itu merupakan dua istilah yang hampir sama. Sanad-sanad hadis pada tiap-tiap thabaqat atau tingkatannya disebut rawi, jika yang dimaksud dengan rawi adalah orang yang meriwayatkan dan memindahkan hadis. Begitu juga, setiap rawi pada tiap-tiap thabaqah-nya merupakan sanad bagi thabaqah berikutnya.

Akan tetapi, yang membedakan antara kedua istilah di atas, jika dilihat lebih lanjut, adalah dalam dua hal yaitu: pertama,dalam hal pembukuan hadis. Orang yang menerima hadis-hadis, kemudian menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin, disebut rawi. Dengan demikian rawi dapat disebut mudawwin atau mukharrij (orang yang membukukan dan menghimpun hadis). Adapun orang-orang yang menerima hadis dan hanya menyampaikan kepada orang lain, tanpa pembukuannya disebut sanad hadis. Berkaitan dengan ini, dapat dikatakan bahwa setiap sanad adalah rawi pada tiap-tiap thabaqahnya, tetapi tidak setiap rawi disebut sanad hadis sebab ada rawi yang membukukan hadis. Kedua, dalam penyebutan silsilah hadis untuk sanad, yang disebut sanad pertama adalh orang yang langsung menyampaikan hadis tersebut kepada penerimanya, sedangkan para rawi, yang disebut rawi pertama adalah para sahabat Rasullullah SAW. Dengan demikian, penyebutan silsilah antara kedua istilah ini merupakan sebaliknya. Artinya, rawi pertama adalah sanad terakhir,dan sanad pertama adalah rawi terakhir.

  • KEDUDUKAN MATAN DAN SANAD HADIS

Para ahli hadits sangat berhati-hati dalam menerima suatu hadits kecuali apabila mereka mengenal dari siapa mereka menerima setelah benar-benar dapat dipercaya. Pada umumnya riwayat dari golongan sahabat tidak ada persyaratan apapun untuk diterima periwayatanya. Akan tetapi merekapun sangat berhati-hati dalam menrima hadits.

Pada masa khalifah Abu Bakar r.a dan Umar r.a periwayatan hadits diawasi secara ketat dan hati-hati, dan tidak akan diterima jika tidak disaksikan kebenaranya oleh seorang yang lain. Ali bin Abu Tholib tidak menerima hadits sebelum yang meriwayatkanya disumpah.

Meminta aksi kepada seorang perowi, bukanlah merupakan keharusan dan hanya merupakan jalan untuk menerima hati dalam menerima yang isi yang di beritakan itu. Jika dirasa tak perlu meminta saksi atau sumpah para perowi, merekapun menerima periwayatanya.

Adapun meminta seseorang saksi atau menyeluruh perawi untuk bersumpah untuk membenarkan riwayatnya, tidak dipandang sebagai suatu undang-undang umum diterima atau tidaknya periwayatan hadits. Yang diperlukan dalam menerima hadits adalah adanya kepercayaan penuh kepada perawi. Jika sewaktu-waktu ragu tentang periwayatanya, maka perlu didatangkan sakksi/keterangan.

Kedudukan sanad dalam hadits sangat penting karena hadits diperoleh/atau di diriwayatkannya. Dengan sanad, suatu periwayataan hadits dapat diketahui mana yang dapat diterima dan di tolak dan mana hadits yang shohih atau tidak, untuk diamalkan. Sanad merupakan jalan yang mulia  untuk menetapkan hukum-hukum islam. Ada beberapa riwayat dan atsar yang menerangkan keutama’an sanad di antaranya :

Abdullah Ibnu Mubarak berkata :

“menerangkan sanad hadis termasuk tugas agama. Andai tidak diperlukan sanad, tentu siapa saja dapat mengatakan apa yang dikehendakinya. Antara kami dengan mereka adalah sanad. Perumpamaan orang yang mencari hukum-hukum agamanya, tanpa memerlukan sanad, adalah seperti orang yang menaiki loteng tanpa tangga”

Asy-Syafi’I berkata :

“perumpamaan orang yang mencari (menerima) hadis tanpa sanad sama dengan orang yang mengumpulkan kayu api di malam hari”

BAB 3

PENUTUP

 

  • KESIMPULAN

 

  • Hadits nabi yang lengkap dan dapat dijamin kebenaranya harus meliputi sanad, matan dan perowi (periwayat)
  • Sanad adalah rantai penutur atau perowi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga Rosululloh. Sanad menggambarkan keaslian suatu ayat.
  • Matan merupakan akhir sanad yakni sabda Nabi Muhammad SAW. ada juga redaksi lain yang menyebutkan bahwa matan adalah ujung sanad ( gayah assanad) jadi bisa dikatakan bahwa matan itu adalah materi atau lafadz hadits itu sendiri.
  • Rawi (perowi) adalah orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa-apa yang pernah di dengar dan diterimanya dari seorang gurunya.
  • Kedudukan sanad dalam hadits sangat penting karena hadits diperoleh/atau di diriwayatkannya. Dengan sanad, suatu periwayataan hadits dapat diketahui mana yang dapat diterima dan di tolak dan mana hadits yang shohih atau tidak, untuk diamalkan. Sanad merupakan jalan yang mulia  untuk menetapkan hukum-hukum islam. Ada beberapa riwayat dan atsar yang menerangkan keutama’an sanad.
  • SARAN

 

Setelah kita mempelajari struktur hadits semoga dapat menambah wawasan khususnya tentang struktur hadits yang meliputi sanad, matan dan perowi. Dan juga kita bisa mengerti lagi tentang bagaimana hadits yang jelas sanadnya.

Mohon ma’af atas segala kekurangan dalam pembuatan makalah ini, kritik dan saran sangat di butuhkan dalam pembuatan makalah selanjutnya agar lebih baik dan benar.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Suryadilaga, M. Alfati. 2010. Ulumul Hadis. Yogyakarta: Teras

Suparta, Munzier. 2011. Ilmu Hadis. Jakarta : Rajawali Pers

Sholahuddin, M. Agus. 2008. Ulumul Hadis. Bandung : Pustaka Setia

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s